Putu Satria Kusuma
S a t u :
S a t u :
Kutinggalkan kamu di halaman kertas robek itu. Menyepilah kau di situ seperti aku menyepi di dalam pena.
Aku lupa mengapa aku meninggalkanmu.Yang kuingat, kulakukan hal itu setelah semua puisimu kuhisap dan cemberutmu membakar rambut di kepalaku hingga aku botak hangus. Aku belajar darimu jadi dirimu si penulis dan penghapus kata- kata dari kaki maha kata yang berserak berurat akar pada debit nyawa. Aku juga telah merobek semua cerita air mata yang tertulis pada kertas waktu agar tak terbaca meski dalam arsip otak.Tak mudah. Tetapi waktu terus mengalir membuat kita makin tua, pikun, tak berarti, dan makin tak berarti seperti kayu-kayu tua yang basah.
Aku mengalir mengarungi angin. Kau mengalir mengarungi kertas. Sesekali bergantung pada mimpi sejarah. Karenanya aku tak mau henti di sini pada satu dahan airmu, takut tenggelam sia-sia.
Katamu kejahatan tak terkalahkan. Kebenaran tak pernah menyerah. Puisi harus terus ditulis meskipun kau telah terkubur .
Angin bawalah parahku pergi, melupakan tangannya, matanya, hatinya, bibirnya dan rahasianya. Itu demi pintu yang kugedor untuk membangunkanmu dari tidur panjang. Juga demi cintaku pada sejengkal tanah dan catatan-catatan rantai darahku.
Kuingat, hari itu malam mencuri gelap. Kau mulai datang dalam mimpiku, setiap malam, selama beberapa tahun. Dalam mimpi kau datang tanpa kata, diam dan duduk di atas gumpalan kabut. Esoknya dan esoknya lagi, aku selalu bertanya padamu mengapa kau bisa hadir dalam mimpi-mimpiku. Tapi seperti pada mimpi pertama hingga ke seribu satu mimpi itu kau tak menjawab dengan kata. Hanya diam seperti patung Ken Dedes yang masih tekubur di candi itu.
Jadi sekarang selamat tinggal puisiku. Jika kau datang, fotoku pun tak sanggup menyapamu lagi seperti dulu.
Pagi tanpa tahun dan tanggal. Datang lagi bibirmu memerah meramah menyapa nyawaku dan mayatku. Kulitku melepuh mengelupas. Apakah aku akan bunuh diri di kamar mandi dalam hujan malam sambil bernyanyi di depan kupingku sendiri, tanyaku. Esok adalah air yang mengalirkan nasibnya.
Pagi tanpa matahari. Kemana matahari yang biasanya merangkak di lengkung langit pertama ? Kecemasanku hilang ketika sadar dialah yang mencuri matahari, disimpan di dalam mulutnya. Katanya untuk diberikan padaku pada jam yang tak terjadwalkan. Lalu ketika kami bertemu ditengah kerumunan demonstran yang tak kutahu tengah memperjuangkan apa sesungguhnya, dia muntahkan matahari itu dari lubang mulutnya. Matahari bulat itu melayang di antara kami. Sementara tubuh kami hanya terbungkus kata-kata. Matahari bulat itu melayang bermain-main di antara kami. Darahku mendidih manakala kulitmu membuka ribuan poriku. Jarimu halus buah mangga muda. Supaya tak terlanjur disergap langit, bulatan matahari itu kami gigit-gigit, setengah bulatan matahari masuk ke dalam mulutku, sedang setengah lainnya masuk ke mulutnya yang tipis merah jambu. Tuhan mungkin akan marah, tapi mungkin akan memaafkan manusia yang penuh dosa ini. Suatu kali kami akan melepaskan penggalan-penggalan matahari dari dalam diri kami ke udara bebas di atas rumput agar menyatu menjadi bulatan utuh untuk menyinari kehidupan dan keindahan yang tertunda.
Maret yang diam gelisah. Semalam kami berciuman hingga gigi bertukar warna. Kecewaku yang kuduga telah pergi dariku ternyata datang lagi, tentu masih dengan gayanya yang lama. Tegur sapaku habis ditelan api. Tulang-tulang dadaku bergetar, bagai menahan pemberontakan jiwa yang menuntut keluar dari tubuhku. Tapi itu sebenarnya hanyalah kekecewaan yang kembali lagi setelah kecewa itu keluar. Atau mungkin kekecewaanku dan kecewamu beradu birahi hingga dadaku, dadamu, dan dada semua binatang menggemuruh. Ya, kecewaku memang pernah pergi. Bahkan kecewaku pernah mengucapkan selamat tinggal padaku. Ini artinya aku tak kan memiliki lagi kecewa sampai kapan pun karena kecewaku telah pamit dariku. Aku memang yakin kecewaku telah pergi. Tetapi sekarang kecewaku datang lagi membawa pisau bunga layu beracun ular Kobra. Aku terpaksa membukakan pintu lagi dan mempersilahkan kecewaku masuk ke dalam tubuhku, ke kepalaku, ke hatiku, ke rongga-rongga tubuhku sampai ke sela-sela otakku. Entah sampai kapan kecewaku mendirikan tenda-tenda dalam tubuhku. Aku ingin mengusirnya saja, memberakannya besok pagi bersama kotoran lainnya. Tapi tak bisa, aku tak bisa mengusir. Entah sebabnya! Mudah-mudahan ada dukun yang sedang membaca mantra pemanggil kecewa. Maka akan kuserahkan kecewaku padanya. Atau ada penyair yang kehabisan kecewa dan karenanya tak menyair, maka akan kuserahkan kecewaku padanya. Aku siap kehilangan kecewa, jika tidak kecewaku akan membakar tubuhku menjadi abu!
40 tahun melawan angin. Aku masih menggiring hewan-hewanku, mencari kepalanya yang hilang bertahun-tahun. Apakah kau tahu di mana menemukan kepala – kepala hewanku ini ?
April berlalu dengan jaket hangat. Ucapanku basi. Kulihat fotoku ditempel pada puluhan pantat anjingmu. Aku tahu itulah caramu yang paling indah memutuskan cinta setelah gagal mengusirku dengan bibir tanah tanpa lidah. Adakah yang lebih bodoh dan nikmat dari bicara pada bayangan sendiri di kaca air lubang kakus yang setiap pagi kami beraki ?
Mei menjadi lubang kelamin yang sedang menjerit melahirkan anak-anaknya. Di laut bunga-bunga mekar, ikan-ikan terbakar. Setelah letih sapaanku disahuti air, kuucapkan selamat berpisah. Seratus halaman janji untukmu, seribu halaman cinta untukmu, sudah kurobek. Namamu yang berakar di hatiku, menjalar sampai ke mimpi, sudah kucabut. Jadilah dua manusia yang belum mengenal dan yang tak perlu saling kenal, meskipun itu hanya nama. Bahkan tak perlu bicara. Putuskanlah bahwa kita tak bertemu meskipun sedang berhadapan. Tak salah jika kita diam, masing-masing berlindung di balik jeruji kemunafikan. Aku ingat semua mata punya simpanan air mata, air mata anjing yang melolong di siang yang buta.
Desember , ditulis dengan deretan nyawa melayang. Tubuh tertikam duri. Cabikan tubuh berserakan debu beton. Itulah musim bunga ditebas – tebas untuk cinta yang tak sempat diucapkan. Oktober juga punya cinta yang tak sempat diucapkan. Itulah musim bunga-bunga menangis. Sementara burung-burung kehilangan senja dan peta untuk pulang. Burung yang selamat bersembunyi dalam dekapan sarang kawat sambil menceritakan api dan desingan peluru di Gaza . Angin mengetuk setiap pintu, tetapi tak pernah ada yang membukakannya.
Desember membuat tubuh dan usia menua, sementara emosi belum dewasa. Otak makin tumpul, mulut melebar terlalu banyak bicara. Puisi belum lahir. Pada halaman tak bernomer, namamu masih ditulis dengan tinta lidahku. Kemudian kupenuhi tubuhku dan tubuhmu dengan tato bergambar ratusan setan seribu rupa. Akulah manusia yang hilang, katamu berlutut, entah untuk siapa pengakuanmu itu. Akulah cerita yang hilang, desismu di toko-toko buku, di depan televisi- televisi, di perpustakaan dan di kantor-kator arsip. Kita pun berlari mengejar detik, masuk ke warnet mencari-cari wajah kita di setiap situs dan tentu saja terkejut ketika melihat wajahmu dan wajahku pecah dilindas tank Israel.
Aku terus mencoba bersandar pada jalan tanpa bunga, tanpa burung. Aku berjalan bersama anak-anakku yang tak sempat kutitipkan pada rahimmu. Padahal aku selalu menyimpan nestapa rindu bertapa pada hutan rimbunmu yang menepi sepi. Anak-anak lebih penting dari impian kita.
Separuh jaman kita telah menjadi lalat-lalat penghisap borok. Kita menjual bunga-bunga karena manusia sepanjang waktu berubah jadi kupu-kupu. Yang laku adalah borok dan bunga. Tulislah borok, tulislah bunga. Setiap hari suka tak suka kita akan melihat borokmu di koran, radio dan televisi. Proposal pengadaan borok amat laku. Itulah alasannya kau mendirikan kantormu dengan interior berisi hiasan foto-foto borok, seperti tubuh tanpa kepala tergeletak di jalan. Itu tubuhmu atau tubuhku, atau tubuh ibu kita. Rumah terbakar itu, toko yang di jarah itu dan tubuh-tubuh itu, tubuh kita yang belum sempat diberi nomer.
Sekali lagi tahun ini tak bisa kukenali angkanya.Tahun tanpa angka. Yang dulu lari kini datang membawa senyumnya. Sementara batinku ditimpa kecamuk, kemuakan pada situasi, ribut memperebutkan jabatan. Massa dilibatkan, entah massa murni atau bayaran, tetapi mereka sesama rakyat, sesama saudara saling palu sampai ke dalam mimpi.
Indahmu melelahkan. Di pasar dua pencuri cinta melucuti hasratnya. Ikan-ikan lebih amis dan berlendir. Para pedagang menjual sayur yang telah membusuk. Di dapur kita mengiris tubuh-tubuh kita yang selalu dipuja manusia. Darah meleleh bagai es cream. Lalu tubuhku tubuhmu yang luka itu menjerit ketika digarami. Dengan sedikit bumbu penyedap, kami saling menggoreng dan merebus tubuh masing-masing agar enak disantap. Di meja makan, mula-mula aku menggigit bola matamu. Lalu kamu pun menggigit lidahku yang sering menari. Lalu aku menggigit jari dan mencabik daging pahamu. Sedang kamu lebih memilih mencomot jantungku yang mengering dan mengunyahnya dengan sambal penyedap. Kecap menambah nikmat sup otak yang kucomot dari otakmu yang selama ini dipakai memikirkanku siang malam. Rasa sakit dan nikmat menjadi satu wujud yang memabukan manakala tangannya yang halus menggenggam kapak dan mengapakku berkali-kali! Bayangan pecah di air. Televisi hangus menghadirkan gambar-gambar negriku.
Aku larut dalam percakapan pemakai topeng yang mengesankan. Selalu kuikuti kemana pun kau menari. Bahkan aku mengintipmu saat kau membuka topengmu, dan kulihat wajahmu sudah keriput dengan hiasan mulut tak bergigi. Kemana gigimu sayang ?
Dua ribu empat, dua ribu lima,dua ribu enam, dua ribu tujuh, dua ribu delapan,dan dua ribu seterusnya, selamat tinggal dan selamat datang tahun-tahun tak berangka.Apa bedanya dengan seribu sembilan ratus sembilan delapan dan sembilan sembilan . Orang hilang itu belum ditemukan, harga masih melangit, antre bensin dan gas, ribuan buruh di PHK. Apakah hanya usia yang bertambah dan perut makin tambun pada tahun – tahun selanjutnya.Yang pasti aku sudah menutup sisi kelamku dengan silang seling garis warna warni lukisan –lukisan Made Budiana.
Tahun yang lewat kutulisi dirimu hanya di bulan September. Aku sudah menyerah pada jalan-Nya dan bersembunyi dalam pena menahan tangis manakala melihatmu tergeletak abadi di atas kertas tertimbun batu-batu . Tapi cintaku, mataku akan selalu membacamu dan menulisimu dengan pena lidahku . * Singaraja, 2004-2009.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar