Label

Rabu, 12 Oktober 2011

DI RUANG TUNGGU

   naskah drama:
    Putu Satria Kusuma
bagi mereka yang dipaksa pergi
dan yang ditinggalkan
pada 12 Oktober 2002
di kuta-badung-bali.

DUA ORANG DISEBUAH RUANG TUNGGU.
PESAWAT TELEVISI MENYIARKAN BERITA PENGEMBOMAN, MAYAT-MAYAT, RUMAH SAKIT,  KESEDIHAN,PENGADILAN,KARANGAN BUNGA, DOA,SOLIDARITAS,DSB.
TAMPAK JUGA SEBUAH BAYANGAN PANJANG JATUH KE LANTAI HINGGA MERAYAP KE LAYAR BELAKANG.
MUNGKIN BAYANGAN ITU BAYANGAN MANUSIA YANG TENGAH BERJALAN, TAPI JUGA KADANG DIAM SEPERTI MENUNGGU. NAMA PELAKU DIPAKAI ANGKA 1,2 DAN 3- JADI TERSERAH ANDA MEMBERI NAMA.

1.Sudah lama disini ?
2.Mungkin.
1.Kamu tak bosan.
2.Aku mulai bosan.Lama menunggu, yang kutemukan hanya namaku dalam daftar.
1.Jalan-jalan ke kantor Polisi, pasti menghibur. Atau ke Pengadilan, siapa   
  tahu mereka sudah divonis.
2.Apa bedanya bagi kita ?Polisi menangkap karena tugas, pengadilan memvonis karena hukum. Ditangkap, dipenjara, divonis mati, tak membuat kita hidup lagi. 

Minggu, 09 Oktober 2011

CATATAN ROBEK

 
Putu Satria Kusuma

S a t u :

 Kutinggalkan  kamu  di halaman kertas robek itu. Menyepilah kau di situ seperti aku menyepi di dalam pena.
Aku lupa mengapa aku meninggalkanmu.Yang kuingat, kulakukan hal itu setelah semua puisimu kuhisap dan cemberutmu  membakar rambut di kepalaku hingga aku  botak hangus. Aku  belajar darimu jadi dirimu si penulis dan penghapus kata- kata dari kaki maha kata yang berserak berurat akar pada debit  nyawa. Aku juga telah merobek semua cerita air mata yang tertulis pada kertas waktu agar tak terbaca meski dalam arsip otak.Tak mudah. Tetapi waktu terus mengalir membuat kita makin tua, pikun, tak berarti, dan makin tak berarti seperti kayu-kayu tua yang basah.

Jumat, 07 Oktober 2011

CUPAK TANAH


naskah drama :
Putu Satria Kusuma


Terinspirasi dari kisah rakyat Bali, Cupak.

SATU :

KAKI-KAKI HUJAN MENGHUJAM. JALAN TANAH ITU MULAI BECEK. DARI BERBAGAI ARAH, ORANG BANYAK MELINTAS DAN MEMAYUNGI DIRINYA DENGAN DAUN PISANG. TIBA-TIBA LANGKAH MEREKA BERGEGAS. KADANG BERLARI TANPA ARAH YANG PASTI. TERJADI KEKACAOAN. SALING TUBRUK.
LALU DARI BALIK DAUN-DAUN YANG MEROBEK TERLIHAT LELAKI SANGAR ITU MENGINTIP, MATANYA LICIK. DIA CUPAK. MEREKA BERTERIAK KETAKUTAN. MENGAMUK.
 LALU LARI.

DUA:
GUNDUKAN TANAH MULAI MENGGUNUNG. RINTIHAN PILU MENGALIR DARI MEREKA  YANG MENGANGKUT TANAH DAN MENIMBUNNYA PADA GUNDUKAN TANAH ITU. ADA YANG MEMBAWA SEKEPAL, SEBUNGKUS, SEBAKUL, SEKARUNG. SEMENTARA CUPAK  TIDUR LELAP DI ATAS TANGGA DUA METER. LALU KETIKA TANAH TELAH MENGGUNUNG, MEREKA PUN MEMBANGUNKAN CUPAK. MULA-MULA DENGAN CARA SEREMONIAL. MENGHORMAT BERSAMA. LALU SEORANG PEJABAT  MENGUCAPKAN BASA-BASI.

PEJABAT
Sebelumnya terimalah harapan kami semoga paduka Cupak, sehat lahir batin dalam lindungan alam, lindungan segala Dewa dan dalam lindungan Tuhan Yang Maha Kuasa. Paduka Cupak..Selanjutnya perkenankanlah kami yang bodoh mohon maaf, karena berani mengganggu tidur Paduka. Hal ini kami lakukan, tiada lain dan tiada bukan merupakan cetusan rasa cinta sekaligus tanggungjawab kami…

Kamis, 06 Oktober 2011

TANTRI


Naskah drama:
Putu Satria Kusuma

Satu:

Seekor anjing meraung. Melangkah terseok-seok, dan menghilang dalam gelap.

Tantri melangkah gundah.

TANTRI :
Dengan apa kupanggil terang
manakala hati manusia menggelap

Sekelompok orang bangkit dan melenguh, dan berteriak sahut menyahut:

SAHUTAN SUARA-SUARA:
Dengan apa kupanggil terang
manakala hati manusia menggelap

Mereka memukul-mukul dirinya serta apa saja karena putus asa dan marah. Suara hiruk sampai akhirnya mereka rebah.

Selasa, 27 September 2011

doa 1 oktober

: putu satria kusuma

setiap melalui tanggal ini
aku menggigil
tak ada angin sesudahnya
pembuluh darah dilalui es
dan sisa sedikit bara api dari dupa jiwaku
melawannya
karena ribuan mayat tanpa kepala mencari kepalanya
dan rumahnya
di depan pengadilan yang agung
dengan tubuh berlubang-lubang
mencari namanya di buku sejarah
diketuknya pintu hati para penyair
terdengar sumbang menakutkan

matanya bolong menatap potret presiden
linglung di bilik tps
ditariknya mulutku
untuk berdoa
:Tuhan
kenapa undang-undang ditulis
lalu disimpan rapi di meja
sudah banyak yang mati
terlalu gelap
mataharimu dimana

Minggu, 10 Oktober 2010

suara ngga merdu

: putu satria kusuma

suara yang ngga mungkin tertahan, tak berkulit lapis lapis,harus keluar, meskipun pun rambu rambu menghadang, sepererti kotoran yang memberat dalam perut, seperti bayi sembilan bulan, harus keluar, mencuat dari tanah jadi tanaman,  dari langit menjadi hujan, dari jalan jadilah pengamen , dari hati keluarlah suara, bersuaralah keras keras, suara mu ngga merdu, tapi perlu.